Standar Tiktok: mengapa berpengaruh terhadap gaya hidup dan finansial?
Sejak kepopulerannya selama beberapa tahun belakangan ini, Tiktok telah banyak mempengaruhi gaya hidup manusia. Dengan aplikasi berkonsep hiburan dan belanja (shoppertainment), Tiktok tidak hanya berpengaruh pada kondisi keuangan seseorang, tetapi juga gaya hidup orang tersebut secara keseluruhan.
Termasuk di antara hal-hal dari Tiktok yang dapat mempengaruhi gaya hidup orang adalah munculnya standar-standar atau “norma-norma” sosial baru dari konten-konten yang ada di aplikasi ini. Meskipun tidak selalu berdampak buruk, namun nyatanya banyak dari standar sosial baru ini yang disebut berlebihan atau tidak beralasan.
Ketahui pengaruh dan dampak standar TikTok ini untuk keuangan dengan membaca artikel berikut:
Apa itu standar Tiktok

Standar Tiktok adalah standar atau norma sosial yang muncul dari nilai-nilai pribadi yang diungkapkan oleh seorang content creator di Tiktok yang kemudian diamini atau disetujui oleh sejumlah besar pengguna Tiktok lainnya.
Contohnya, seorang content creator menyebutkan bahwa self reward terbaik adalah dengan pergi ke luar negeri. Konten ini bisa menjadi standar Tiktok apabila ia banyak disukai (like), dibagikan (share), atau dikomentari (comment) oleh pengguna lainnya, atau singkatnya menjadi konten viral.
Banyak dari standar-standar tersebut yang bisa berdampak positif, tapi banyak juga yang bisa berdampak negatif. Khususnya dalam hal gaya hidup dan keuangan. Hal ini karena setiap orang tentunya memiliki kondisi fisik, mental, dan keuangan yang berbeda dibandingkan dengan content creator yang membuat standar-standar tersebut.
Dampak Buruk Standar Tiktok
1. Fear of missing out (FOMO)
Tiktok menggabungkan aspek e-commerce dengan aspek hiburan (shop entertainment). Bisnis model yang unik ini mampu membuat penonton memiliki keterikatan tersendiri dengan influencer yang mereka ikuti di aplikasi ini. Akibatnya, ketika influencer tersebut memiliki suatu barang baru, ada peer pressure yang mendorong pengikutnya untuk memiliki barang yang sama.
Fear of missing out (FOMO) dalam konteks apapun, baik positif maupun negatif, dapat membangun kebiasaan boros dengan tanpa disadari.
2. Standar hidup sempit dan materialistik
Banyak standar Tiktok yang dibangun hanya berdasarkan asumsi tertentu dan sangat bergantung pada hal-hal yang bisa dilihat (materialis). Contohnya adalah istilah “cewek aura maghrib” atau standar “laki-laki baru bisa dianggap menyayangi pasangannya apabila ia telah memberikan sesuatu (dalam konteks barang)”. Padahal, orang Indonesia secara alamiah memang memiliki variasi warna kulit kecoklatan dan ada banyak cara bagi laki-laki untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada pasangan.
Dalam konteks keuangan, standar-standar seperti ini bisa menimbulkan pembelian barang yang sebenarnya tidak perlu atau bahkan bahaya. Misalnya, untuk mengubah warna kulit dengan cepat, mereka bisa membeli produk kosmetik yang dilarang oleh BPOM atau demi disukai oleh pacar, seseorang bisa membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Standar tiktok mengakibatkan rasa rendah diri
Tidak bisa dipungkiri kalau standar Tiktok dapat menyebabkan seseorang untuk merasa rendah diri karena tidak bisa mencapai standar tersebut. Contohnya, ketika standar Tiktok yang menyebutkan bahwa seseorang akan dianggap keren kalau sudah memiliki iPhone terbaru. Demi mendapatkan instant approval, orang yang belum memiliki gawai ini bisa jadi malah akan berhutang untuk membelinya.
Apalagi sekarang sudah banyak produk keuangan yang memungkinkan seseorang untuk berbelanja di luar batas kemampuannya, seperti paylater. Di antara banyak segmen masyarakat yang menggunakan aplikasi ini, remaja dan dewasa muda adalah kelompok usia yang paling rentan karena remaja masih mencari jati diri dan orang dewasa muda sudah memiliki pendapatan sendiri tapi masih mencari pengakuan dari orang lain.
Pada akhirnya, mengikuti standar Tiktok yang berlebihan dapat menimbulkan gaya hidup konsumtif dan apabila tidak diiringi dengan literasi keuangan yang baik, mengikuti standar Tiktok dapat mengakibatkan beban keuangan jangka panjang, seperti utang yang menumpuk hingga keperluan dasar yang tidak terpenuhi.
Cara menghadapi standar Tiktok

1. Menerapkan mindful spending
Sebelum membeli barang apapun dari Tiktok atau media sosial lainnya, pastikan kamu diam terlebih dahulu dan bertanya “Apakah aku perlu membeli barang ini?”, “Apakah aku perlu membeli barang ini sekarang?” dan jika memang perlu, tanyakan ulang “Apakah aku mampu membeli barang ini?”.
Cara kerja kartu kredit dan fasilitas pembayaran modern lainnya, seperti aplikasi kartu kredit Honest memang memungkinkan belanja dengan nilai besar dengan cara diangsur. Namun, perlu diingat juga, akan ada biaya bunga yang harus dibayarkan apabila kamu membayar menggunakan skema installment loan dan atau telat membayar angsuran.
2. Konsumsi konten dengan kritis
Motif orang untuk membuat konten itu ada banyak. Ada yang sekedar membagikan momen-momen sedih atau bahagia, membuat video lucu untuk bisnis sampai sengaja membuat konten demi viral. Mengetahui alasan pembuatan konten ini penting supaya kamu bisa tahu apakah nilai-nilai yang ada dalam konten tersebut bisa diikuti atau tidak.
Selain itu, kamu juga perlu menyadari kalau setiap orang memiliki kondisi fisik, sosial, mental dan ekonomi yang berbeda-beda dan tidak semua hal yang ditampilkan di medsos adalah kondisi yang sebenarnya. Jadi, belum tentu semua nilai yang ada di Tiktok atau sosial media lainnya cocok untuk kamu ikuti dengan mempertimbangkan kondisi diri kamu saat ini.
Hal yang tidak kalah penting dari cara menghadapi standar Tiktok adalah dengan membatasi durasi konsumsi sosial media ini sendiri. Cobalah lebih fokus ke dunia nyata dengan berinteraksi dengan keluarga dan tetangga alih-alih membangun hubungan semu di dunia maya.
Frequently Asked Questions (FAQ):
1. Bagaimana algoritma Tiktok berpengaruh terhadap kebiasaan konsumtif seseorang?
Cara kerja algoritma Tiktok adalah dengan menampilkan konten-konten yang kamu sukai atau yang sering kamu tonton. Semakin sering konten serupa muncul di berandamu, hal ini semakin lama akan membangun keinginanmu untuk memiliki barang tersebut atau melakukan hal tersebut yang mungkin tanpa kamu sadari.
2. Apakah fitur belanja di Tiktok buruk bagi pengguna?
Nggak selamanya fitur belanja atau shop di Tiktok membawa pengaruh buruk. Kamu bisa menjadikannya sebagai utang produktif untuk modal awal bisnis. Contohnya kamu membeli daster murah di Tiktok Shop untuk dijual kembali.
3. Apa sisi positif standar Tiktok?
Tidak melulu standar Tiktok itu buruk. Kamu bisa mengambil sisi positif selama scrolling beranda Tiktok dengan menonton konten bermanfaat. Contohnya video tutorial memasak, konten berbagi di Jumat berkah, konten yang membicarakan soal finansial, dan sebagainya.
4. Bagaimana cara mengubah algoritma Tiktok?
Kamu bisa mengubah algoritma Tiktok menjadi lebih positif dengan cara memilah-milah mana konten yang lebih positif. Misalnya jika kamu selama ini sering menonton konten unboxing barang mewah, maka cobalah menonton lebih banyak konten lain yang lebih mengedukasi dan membawa dampak baik. Dengan begitu, algoritma berandamu perlahan akan berubah.
5. Standar Tiktok apakah hanya berlaku pada generasi muda?
Standar Tiktok tak hanya mempengaruhi kehidupan generasi muda. Bahkan, banyak generasi yang lebih tua juga terpengaruh dari konten yang sering mereka tonton.
What are you waiting for?
Get your Honest Card today








