Begini tren sistem pembayaran non-tunai di Indonesia dan manfaatnya untuk bisnis kamu!
Tidak dapat dipungkiri bahwasannya pasca Covid19, banyak aspek kehidupan masyarakat Indonesia yang berubah. Diantaranya adalah masyarakat Indonesia kini semakin sering menggunakan metode pembayaran non-tunai (cashless payment).
Bahkan, menurut laporan dari Bank Indonesia sebagaimana ditulis oleh The Jakarta Post, penggunaan QRIS pada Bulan Juli 2025 meningkat hingga 163% YoY dengan pertumbuhan paling pesat di luar Pulau Jawa. Saat ini, metode pembayaran ini juga diadopsi oleh lebih dari 38 juta merchant yang mulai dari perusahaan besar hingga kios-kios kecil.
Tapi selain QRIS, Indonesia kini juga memiliki berbagai macam sistem pembayaran non-tunai lainnya. Berikut ini pembahasannya:
Tren sistem pembayaran non-tunai di Indonesia

1. Kartu debit dan kredit
Salah satu alat pembayaran non tunai yang sudah ada sejak lama di Indonesia adalah kartu debit dan kartu kredit. Apabila dilihat dari fasilitasnya, kedua produk perbankan ini berbeda. Namun, cara penggunaannya sama yaitu:
- Kasir akan memasukkan data kartu ke dalam sistem untuk pembayaran offline;
- Pembeli memasukkan data kartu ke dalam sistem untuk pembayaran online;
Saat ini, beberapa jenis kartu juga sudah dilengkapi dengan fitur NFC (Near Field Communication) dan aplikasi. Dengan kedua fitur ini, pembeli bisa melakukan pembayaran cukup dengan menempelkan kartu atau handphone miliknya ke mesin EDC setelah kasir memasukkan data pembelian. Hal ini dengan catatan handphone tersebut sudah memiliki aplikasi mobile banking dari bank terkait dan mendukung fitur NFC.
2. E-money
Selain kartu debit dan kredit, e-money juga merupakan alat pembayaran digital yang berbasis kartu. Bedanya adalah, e-money bisa diterbitkan oleh bank, perusahaan transportasi maupun fasilitas umum tertentu. Metode pembayaran ini umumnya digunakan sebagai alat pembayaran transportasi umum, seperti e-toll dan perlu diisi kembali jika saldo di dalamnya sudah habis.
3. E-wallet
Dompet digital atau e-wallet di Indonesia umumnya diterbitkan oleh perusahaan transportasi dan aplikasi e-commerce. Selain bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa di aplikasi transportasi dan e-commerce tertentu, dompet digital ini juga bisa digunakan untuk membeli produk PPOB, seperti listrik, air dan pulsa.
Menariknya, menurut laporan dari The Jakarta Post, E-wallet banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai alat untuk jual beli online dan membeli barang yang nilainya relatif kecil.
4. QRIS
Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) adalah metode pembayaran non tunai berbasis barcode. Dirilis pada tahun 2019, kini sudah ada lebih dari 38 juta merchant yang menggunakan sistem pembayaran ini. QRIS kini juga sudah bisa digunakan di Thailand, Malaysia dan Singapura.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, adopsi sistem pembayaran digital ini di Indonesia cukup masif. Apalagi QRIS bisa digunakan untuk pembayaran produk face-to-face maupun untuk pembayaran online dengan cara mengunduh gambar kode yang tersedia.
5. Transfer dan virtual account
Menurut laporan dari The Jakarta Post di atas, transfer dan virtual account (VA) juga merupakan salah satu metode pembayaran digital yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya untuk pembelian barang dan jasa bernilai besar. Hal ini mengingat bahwasanya biaya transfer bank menggunakan BI-Fast kini hanya sebesar Rp2.500 saja dan bahkan beberapa bank digital menawarkan gratis transfer.
Salah satunya adalah Bank Ina Digital melalui Honest App. Dengan mengunduh aplikasi kartu kredit ini, kamu bisa transfer ke bank lain dengan tanpa perlu membayar biaya administrasi sepeserpun.
Selain transfer, Honest App juga memungkinkan pembeli untuk melakukan pembayaran non tunai dengan menggunakan QRIS dan melalui kartu kredit Honest baik itu secara fisik maupun digital (melalui aplikasi dan NFC).
Bisnis dengan skala menengah hingga besar umumnya menyediakan beberapa metode pembayaran digital sekaligus. Agas setiap pembayaran dari pembeli tercatat dengan baik, apapun metode nya, tidak jarang mereka menggunakan jasa perusahaan payment gateway, seperti Doku, Midtrans, Xero dan lain sebagainya.
Manfaat sistem pembayaran non-tunai untuk bisnis

Peran sistem pembayaran dalam perekonomian sangat besar. Misalnya, dengan sistem pembayaran non tunai ini, Bank Indonesia bisa mengurangi produksi uang kertas dan koin tanpa perlu mengganggu stabilitas perekonomian secara umum.
Namun, pembayaran digital juga bermanfaat untuk bisnis. Beberapa dari manfaat tersebut adalah:
1. Ekspansi bisnis
Ingin buka bisnis online di Tokopedia, Shopee maupun sosial media? Maka, kamu wajib memiliki sistem pembayaran non tunai, entah itu sekedar transfer atau menggunakan kartu. Ini karena lokasi pembeli produk kamu di aplikasi tersebut jauh dari lokasi bisnis Anda, sehingga pembayaran tunai tidak memungkinkan.
2. Diversifikasi bisnis
Perkembangan sistem pembayaran di Indonesia juga mendorong perubahan perilaku masyarakat. Kini, tidak sedikit orang yang belanja di toko atau restoran yang sudah menyediakan metode pembayaran non tunai, setidaknya QRIS. Jadi, salah satu cara untuk membuat bisnis kamu lain daripada pesaing adalah dengan menyediakan metode pembayaran yang fleksibel, bisa QRIS, transfer maupun metode lainnya.
3. Tidak perlu stok uang kembalian
Kelebihan lain menggunakan sistem pembayaran non tunai adalah bisnis kamu nggak perlu punya stok uang kembalian karena dengan metode pembayaran ini, pembeli bisa transfer hingga nilai paling kecil.
4. Catatan keuangan lebih terjamin
Berbeda dengan transaksi tunai yang harus dicatat secara manual, transaksi keuangan digital akan tercatat secara otomatis. Misalnya, ada pembeli yang mengaku sudah melakukan pembayaran dengan metode transfer. Ia juga menunjukkan bukti transfer yang tampak legit. Nah, kamu bisa cek aplikasi mobile banking, sms banking atau bahkan meminta bank untuk mencetak rekening koran untuk mengecek apakah ada dana terkirim dari pembeli tersebut.
Sistem pembayaran non tunai memang menawarkan banyak kemudahan baik untuk pembeli maupun pebisnis. Namun, tidak dapat dipungkiri juga kalau pembayaran online seperti ini dapat menimbulkan masalah baru, seperti penipuan barcode QRIS, atau pengambilan saldo pembeli dengan metode carding. Selain itu, metode pembayaran ini juga sangat tergantung dengan adanya internet.
Oleh karena itu, untuk menghindari tindak kejahatan seperti ini dan potensi putusnya jaringan internet di lingkungan bisnis kamu, pastikan kamu memiliki cadangan uang tunai yang cukup, dan tidak lupa memantau keberlangsungan bisnis secara manual.
Frequently Asked Questions (FAQ):
1. Apa kekurangan sistem pembayaran cashless?
Pembayaran cashless cenderung fleksibel dan mengakibatkan ketergantungan, sehingga memungkinkan terjadinya pemborosan apabila tidak mampu mengatur keuangan dengan baik.
2. Mengapa zaman sekarang banyak yang kurang suka transaksi dengan uang tunai?
Transaksi menggunakan uang tunai terutama dalam jumlah besar dinilai kurang efektif. Selain itu, uang tunai lebih rentan hilang dan cukup sulit melacak pengeluarannya. Inilah yang menyebabkan di zaman sekarang lebih menyukai transaksi secara cashless (non-tunai) karena dianggap lebih praktis dan fleksibel.
3. Apa risiko jika suatu bisnis menolak pembayaran tunai?
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011, apabila ada bisnis yang menolak pembayaran tunai Rupiah akan dikenakan sanksi pidana berupa kurungan maksimal 1 tahun penjara dan/atau denda sebesar 200 juta rupiah.
What are you waiting for?
Get your Honest Card today








