Mengenal istilah strawberry generation dan masalah keuangan yang sering dihadapi
Pernahkah kamu mendengar orang tua atau kakek nenekmu bilang seperti ini “Dulu, kami tetap rajin pergi ke sekolah meskipun harus mendaki gunung dan melewati lembah. Kamu sekolah di situ saja sudah malas!”
Ternyata, ucapan-ucapan seperti ini tidak hanya harus dihadapi oleh generasi muda Indonesia, tetapi generasi muda di belahan dunia lain. Bahkan, ada istilah keren untuk menggambarkan generasi ini, yaitu “strawberry generation” alias generasi stroberi, indah dilihat tapi mudah lembek saat digeprek.
Apa itu strawberry generation?

Generasi strawberry adalah istilah yang mewakili anak-anak muda generasi milenial dan di bawahnya yang cenderung memiliki penampilan luar indah dan bagus, tapi mudah menyerah dan gampang sakit hati (Kasali, 2018). Hal ini merujuk pada tampilan buah strawberry yang cantik di luar tapi mudah remuk jika digeprek.
Istilah ini sebenarnya bukan istilah yang baru. Menurut Vocab (2008), istilah ini sudah digunakan oleh masyarakat Taiwan untuk menggambarkan anak-anak yang lahir pada tahun 1980-an ke bawah ketika kondisi sosial, politik dan ekonomi negara tersebut sudah cukup stabil tanpa perang dan tumbuh ketika informasi menjadi jauh lebih mudah diakses.
Faktor-faktor makro tersebut membuat orang tua dari generasi ini bisa memberikan fasilitas lebih baik kepada anak-anak mereka. Mulai dari akses pendidikan yang lebih baik hingga ekonomi yang lebih baik. Ditambah dengan akses informasi yang jauh lebih mudah dan cepat, kondisi serba lebih baik ini dianggap membuat generasi muda jadi lebih lemah, mudah menyerah dan mudah sakit hati.
Masalah Keuangan Strawberry Generation
Berikut ini beberapa masalah keuangan yang sering menghantui strawberry generation:
1. Instant gratification
Masalah konsumsi utama yang seringkali diidentikkan dengan strawberry generation adalah kecenderungan untuk mencari kepuasan instan (instant gratification). Hal ini kemudian berlanjut pada pola-pola konsumsi seperti impulsive buying (beli barang tanpa mikir dulu) hingga pola konsumsi yang mengarah kepada experience dan healing. Akibatnya, tidak jarang jumlah pengeluaran generasi ini lebih besar dibandingkan dengan jumlah pendapatannya.
2. Less job security
Tidak hanya dari segi pengeluaran, strawberry generation juga menghadapi tantangan berupa job security yang rendah. Hal ini karena beberapa hal, seperti:
- Kecenderungan gen z dan milenial yang mudah sakit hati dan mudah bosan yang membuat mereka lebih sering pindah kerja. Terlebih lagi, adanya kecenderungan generasi muda saat ini untuk menghindari pekerjaan kasar, seperti bertani, berkebun dan lain sebagainya. Padahal, stabilitas pekerjaan itu dibutuhkan untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
- Kondisi makro ekonomi yang kurang mendukung. Perkembangan artificial intelligence (AI), hingga masalah perang dan perdagangan internasional kembali menghantui stabilitas pekerjaan di masa kini. Dalam wawancaranya bersama Opini Id di YouTube, Professor Rhenald Kasali menyebutkan beberapa profesi, seperti kasir dan teller bank sudah terancam ditutup meskipun pada dasarnya, pasti akan ada profesi-profesi baru yang bermunculan di masa depan. Selain itu, inflasi harga kebutuhan pokok, termasuk rumah, yang sudah terlalu mahal membuat masyarakat generasi ini susah mencapai target keuangan besar tersebut.
Tapi, tidak dapat dipungkiri juga kalau generasi ini memiliki literasi keuangan yang cukup lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal ini dibuktikan salah satunya dengan banyaknya generasi muda yang mulai berinvestasi di pasar keuangan dan pasar modal, mampu membayar tagihan dengan kartu kredit, hingga mengetahui pentingnya mendapatkan pendapatan pasif dengan menabung di bank yang menawarkan bunga tinggi.
Bekerjasama dengan Bank Ina Digital, kini Honest App menghadirkan fitur baru bernama Honest Savings. Dengan menabung di Honest, kamu tidak hanya akan mendapatkan bunga tabungan hingga 4% per tahun, tetapi juga limit penggunaan kartu kredit Honest kamu akan naik seiring dengan kenaikan nilai tabungan tersebut.
Apa yang sebaiknya dilakukan Strawberry Generation?

1. Melatih mindful spending
Ada banyak cara untuk mengurangi instant gratification. Salah satunya adalah dengan melatih mindful spending. Kebalikan dari impulsive buying, dalam mindful spending, kamu dilatih untuk berpikir terlebih dahulu mengenai apakah kamu benar-benar ingin membeli produk tersebut atau tidak.
Misalnya, kamu ingin makan bakso. Alih-alih langsung membeli bakso dari tukang bakso yang lewat, kamu bisa menahan diri terlebih dahulu selama 2-3 jam atau lebih. Apabila setelah 3 jam ternyata kamu masih ingin makan bakso, maka kamu bisa membelinya.
Hal ini juga berlaku untuk pengeluaran untuk healing dan experience. Alih-alih impulsif jalan-jalan ke daerah tertentu tanpa perencanaan matang, ada baiknya jalan-jalan tersebut direncanakan terlebih dahulu.
2. Menggunakan utang sewajarnya
Saat ini, produk kredit di Indonesia semakin beragam. Tidak hanya pinjaman bank, dan kartu kredit kini juga sudah ada paylater dan P2P Lending. Apabila fasilitas ini digunakan untuk mendapatkan instant gratification, ia bisa menjadi masalah keuangan besar di masa depan.
Oleh karena itu, mengelola utang dari fasilitas-fasilitas ini juga perlu bijaksana. Catat barang dan jasa apa saja yang kamu beli dengan cara berhutang dan pastikan besaran utang tersebut tidak lebih dari 30% pendapatan bulanan kamu.
3. Berani mengembangkan sikap bertanggung jawab atas diri sendiri
Professor Rhenald Kasali menyebut langkah ini sebagai berani menjadi sopir (driver) dan tidak hanya menjadi penumpang dari takdir sendiri. Salah satu contoh penerapan sikap tanggung jawab atas takdir diri sendiri ini adalah dengan mempersiapkan asuransi dan dana darurat sebagai jaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti dipecat dari pekerjaan, terpaksa resign dan lain sebagainya.
Hal ini semakin penting jika kamu juga menjadi calon anggota sandwich generation, dimana kamu harus membiayai anak atau adik sekaligus orang tua kamu di masa depan.
4. Keluar dari zona nyaman dan membangun growth mindset
Hal yang tidak kalah penting yang harus dilakukan oleh para anggota strawberry generation adalah keluar dari zona nyaman dan mengembangkan growth mindset. Keluar dari zona nyaman bisa dilakukan dengan banyak cara, mulai dari belajar merantau sampai mencoba bekerja di bidang yang baru. Adapun growth mindset adalah pola pikir yang berfokus pada proses sebagai tahapan untuk menuju kesuksesan dan dalam proses tersebut pasti ada kegagalan-kegagalan yang harus dipelajari.
Frequently Asked Questions (FAQ):
1. Apa hubungan generasi strawberry dengan masalah keuangan?
Generasi strawberry dikenal dengan keinginannya untuk melakukan self reward berlebihan demi menjaga kesehatan mental. Inilah yang menyebabkan pengeluaran mereka bisa jadi lebih besar daripada pendapatan, yang tentu saja juga mengacaukan siklus keuangan.
2. Bagaimana sosial media mempengaruhi strawberry generation?
Banyak strawberry generation terlalu terpengaruh pada standar sosial media. Inilah alasan yang menyebabkan mereka seringkali terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
3. Benarkah generasi strawberry kesulitan menabung?
Banyak generasi strawberry merasa sulit menabung akibat menganut pola pikir YOLO (You Only Live Once), di mana mereka lebih memprioritaskan kebahagiaan di masa sekarang dibandingkan memikirkan finansial untuk masa depan.
4. Bagaimana pengaruh teknologi keuangan pada generasi strawberry?
Teknologi keuangan zaman sekarang semakin berkembang dan menawarkan banyak kemudahan pembayaran. Tentu ini bisa menjadi bumerang terhadap generasi strawberry jika nggak dikontrol dengan baik.
5. Jenis investasi apa yang cocok untuk generasi strawberry?
Generasi strawberry adalah generasi yang sudah melek teknologi. Jika kamu termasuk generasi ini, investasi emas digital, reksa dana, dan saham bisa kamu pertimbangkan.
What are you waiting for?
Get your Honest Card today








