Honest Bank Whatsapp
Memahami istilah latte factor dan dampaknya yang bisa mengancam keuanganmuMemahami istilah latte factor dan dampaknya yang bisa mengancam keuanganmu

Memahami istilah latte factor dan dampaknya yang bisa mengancam keuanganmu

Farichatul Chusna
Jan 7, 2025
Lompat ke:

Siapa disini yang suka jajan? Angkat tangan! Pergi membeli jajan memang salah satu kebiasaan kita, masyarakat Indonesia, yang sudah mengakar kuat sejak kecil. Apalagi Indonesia merupakan salah satu surga kuliner di dunia. Mulai dari chips, jajanan pasar, es teh kekinian, kopi sampai minuman lezat nan mahal semuanya ada di negeri ini. 

Tapi, sadar nggak sih kamu kalau sebenarnya pengeluaran untuk jajan itu nggak kecil-kecil amat? Emang sih, kalau beli sekali doang paling Rp50.000 juga nggak nyampek. Tapi kalau dikumpulkan untuk satu bulan, ternyata nominalnya gede juga loh

Nah, inilah yang disebut dengan latte factor, pengeluaran bernilai kecil tapi karena dikeluarkan sering, nilainya jadi besar. Yuk, baca selengkapnya dalam artikel berikut:

Apa itu latte factor?

Latte factor adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pengeluaran-pengeluaran kecil namun rutin atau sering, sehingga apabila dikumpulkan dalam satu bulan, nilainya bisa besar. Padahal, sebenarnya pengeluaran tersebut tidak terlalu penting. 

Istilah latte factor merujuk kepada kebiasaan orang-orang untuk membeli kopi yang dicampur susu (latte) setiap hari untuk meningkatkan produktivitasnya. Tapi, latte factor tidak hanya melulu soal kopi, tetapi juga pengeluaran lain yang bernilai kecil, tapi rutin dan nggak penting-penting amat, seperti rokok, camilan malam hari, makanan dan minuman dalam kemasan, dan lain sebagainya. 

Misalnya, dalam satu hari kamu bisa mengkonsumsi 1 cup coffee latte seharga Rp30.000. Apabila dilakukan selama 1 bulan (30 hari) berturut-turut, maka pengeluaran kamu untuk kopi saja bisa mencapai Rp900.000. Lumayan, bukan?

Penyebab latte factor

Latte factor erat disebabkan oleh budaya masyarakat Indonesia. Nggak hanya budaya jajan seperti yang telah dijabarkan di atas, tetapi juga budaya mengkonsumsi barang, khususnya kopi dan rokok yang sudah mengakar kuat di negeri ini. 

Kini, kopi tidak hanya dianggap sebagai minuman untuk meningkatkan produktivitas saja, tetapi juga dianggap sebagai peningkat status sosial. Orang minum kopi dan makan snack kini biasanya bersama teman sejawat untuk ngobrol dan berdiskusi, sehingga tidak minum kopi akan dianggap sebagai ketinggalan zaman. 

Apalagi saat ini banyak kedai kopi yang didesain cantik, ciamik yang cocok untuk diunggah di Instagram yang sudah menjadi simbol anak muda untuk berbagi. Tentu tidak nongkrong di cafe atau meminum kopi akan dianggap ketinggalan zaman. 

Latte factor seperti rokok juga erat kaitannya dengan masalah ekonomi. Dilansir dari CNBC (2023), masyarakat miskin cenderung lebih sering mengkonsumsi rokok karena konsumsi rokok dapat meningkatkan dopamin dan mereka tidak memiliki banyak opsi untuk meningkatkan hormon tersebut. Lain halnya dengan orang kaya yang memiliki lebih banyak opsi untuk meningkatkan kadar dopamin dalam tubuhnya.

Dampak latte faktor terhadap keuangan pribadi

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, “Hanya” Rp20.000-an per hari tapi kalau dikumpulin sebulan bisa jadi Rp600.000. Tentu jumlah ini lumayan bukan? Apalagi buat kamu yang gajinya masih UMR. Padahal uang Rp600.000 itu sendiri bisa dipakai untuk kebutuhan yang lebih penting dan menguntungkan untuk masa depan, seperti membayar kost, membayar cicilan motor supaya bisa lunas lebih cepat, sampai diinvestasikan untuk menghasilkan keuntungan berlipat. 

Dengan kata lain, dampak latte factor untuk keuangan pribadi adalah kamu kehilangan kesempatan untuk memiliki kondisi keuangan yang lebih baik di masa depan. Pasalnya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk melunasi cicilan lebih cepat, ditabung atau diinvestasikan untuk mendapatkan keuntungan berlipat justru digunakan untuk konsumsi jangka pendek.

Cara mengatasi efek latte factor

1. Mengurangi kunjungan ke kedai kopi

Untuk mengatasi dampak dari latte factor ini, pertama kamu harus bisa mengurangi jumlah kunjungan ke kedai kopi. Misalnya dari setiap pagi menjadi seminggu sekali dan seterusnya. Untuk membantu meningkatkan produktivitas (biar melek), kopi bisa diganti dengan minuman lain yang lebih sehat dan bisa dibuat sendiri, seperti jus atau susu. 

Kamu sebaiknya juga mengurangi frekuensi nongkrong dengan teman-teman apabila dilakukan di kafe. Sebagai gantinya, ajak teman kamu untuk bertemu di lokasi lain yang tidak melibatkan pembelian apapun, seperti taman atau perpustakaan. 

2. Membayar dengan menggunakan aplikasi

Membayar menggunakan uang tunai memang lebih terasa “menyakitkan” di hati, tetapi membayar menggunakan aplikasi bisa membuat seluruh pengeluaran kamu bisa tercatat dengan baik. Misalnya, kamu membeli kopi dengan menggunakan kartu kredit Honest, maka pembelian kopi tersebut akan segera tercatat di aplikasi kartu kredit Honest, sehingga kamu bisa mengevaluasinya apabila diperlukan. 

3. Mengurangi kebiasaan yang mendorong latte factor

Kebiasaan tersebut seperti merokok, window shopping di mall atau marketplace online. Hal ini untuk mengurangi kecenderungan kamu membeli barang-barang kecil yang sebenarnya nggak penting-penting amat dan kamu membelinya hanya karena impulsive buying

Jajan atau self-reward atau apapun istilahnya bukanlah hal yang salah, tetapi pengeluarannya harus dikontrol dengan baik. Jangan sampai kebiasaan konsumsi jangka pendek ini akan mengurangi kemampuan keuangan kamu dalam jangka panjang. Good luck!

No items found.
No items found.

Tunggu apa lagi?

Dapatkan Honest Card kamu sekarang

Ajukan