Mengenal loud budgeting, strategi menghemat uang ala Gen Z
Pernah nggak kamu bertanya mengapa orang tua kamu tidak pernah mendiskusikan masalah keuangan keluarga denganmu? Apalagi jika masalah keuangan tersebut terkait pengeluaran-pengeluaran penting, seperti biaya pernikahan atau cicilan utang di bank. Di satu sisi, bisa jadi karena mereka tidak ingin memperberat isi pikiran kamu. Tapi di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa membicarakan masalah keuangan secara terbuka di Indonesia masih cukup dianggap tabu.
Nilai yang terakhir inilah yang coba diubah oleh para Gen Z dengan apa yang disebut dengan loud budgeting. Memang, istilah ini relatif baru pada tahun 2024 dan merupakan trend TikTok. Tapi, bukan berarti hal ini tidak bermanfaat untuk kondisi keuangan kamu kedepannya. Jadi, apa itu loud budgeting dan apa kelebihannya? Simak lengkapnya berikut ini:
Mengenal loud budgeting
Loud budgeting adalah istilah untuk mengkomunikasikan rencana keuangan secara terbuka kepada teman dan keluarga. Istilah ini dipopulerkan di TikTok oleh Lucas Battle, seorang influencer asal Amerika Serikat, pada Desember 2023.
Tetapi, lebih daripada mengkomunikasikan anggaran keuangan, loud budgeting secara tidak langsung juga mengkampanyekan nilai-nilai “bangga untuk menabung lebih banyak”. Nilai seperti ini penting untuk diterapkan di Indonesia.
Pasalnya, walaupun masyarakat Indonesia sudah dididik untuk menabung sejak kecil, namun ketika dewasa, kebanggaan memiliki tabungan tersebut tergerus dengan kebanggaan memiliki barang-barang yang lebih “terlihat”, seperti mobil yang lebih bagus, handphone yang lebih canggih atau rumah yang lebih mewah. Oleh karena itu, nilai untuk bangga karena banyak menabung harus lebih ditekankan lagi, apalagi di kondisi perekonomian yang tidak pasti seperti saat ini.
Kelebihan loud budgeting

1. Membantu mengurangi tekanan sosial
Tidak dapat dipungkiri bahwasanya keinginan untuk “belanja lebih” itu seringkali tidak berasal dari diri sendiri, melainkan dari orang lain di sekitar kita. Misalnya, kamu sebenarnya ingin pesta pernikahan yang lebih private dengan 100 orang tamu saja, tetapi orang tua kamu karena gengsi, mendorong kamu dan pasangan untuk mengundang lebih dari 500 orang.
Nah, kamu bisa membuat mereka lebih mengerti dengan kondisi keuangan kamu saat ini dengan secara terbuka membicarakan anggaran keuangan kepada mereka. Harapannya, dengan sikap terbuka seperti ini, mereka akan lebih memahami kondisi dan prioritas keuangan kamu dan pasangan.
2. Membantu menerapkan batas keuangan
Menolak secara terbuka untuk jalan-jalan atau makan di tempat mahal tidak hanya akan mengurangi tekanan sosial, tetapi juga akan membantu batas keuangan kamu tetap terjaga. Pada awalnya, hal ini mungkin akan susah diterapkan, khususnya jika kamu ingin fit in ke sebuah lingkungan sosial baru. Akan tetapi, menerapkan batas keuangan secara terbuka seperti ini penting untuk kesehatan keuanganmu di masa depan.
3. Membantu menciptakan lingkungan keluarga yang sehat
Uang adalah salah satu aspek penting dalam sebuah keluarga. Banyak perceraian yang timbul akibat masalah ekonomi, banyak pula pekerja migran Indonesia yang mengeluh uang yang dikirim ke dalam negeri cepat habis karena keluarganya tidak pandai mengelola keuangan.
Oleh karena itu, masalah keuangan sebaiknya dibicarakan secara terbuka, entah itu kepada pasangan, orang tua ke anak maupun anak ke orang tua. Harapannya, dengan membicarakan keuangan secara terbuka, keluarga akan jadi lebih mengerti susahnya mendapatkan penghasilan di negara orang dan membantu merumuskan strategi cara membelanjakan uang tersebut dengan baik.
4. Menumbuhkan akuntabilitas keuangan di lingkungan sekitar
Loud budgeting juga bisa membantu menumbuhkan literasi dan akuntabilitas keuangan di lingkungan sekitar kamu. Misalnya, dengan mengatakan kalau ingin berhemat demi bisa membeli rumah secara tunai di masa depan, orang tua kamu bisa membantu menegurmu jika terlihat kamu agak lebih boros dibandingkan biasanya.
5. Menumbuhkan rasa bangga karena berhasil mencapai target keuangan
Rasa bangga tidak seharusnya hanya berasal dari kemampuan membeli barang-barang mewah, tetapi juga berasal dari kemampuan menabung dan mengelola keuangan dengan lebih baik lagi. Seperti yang telah dijelaskan di atas, loud budgeting juga mencakup menumbuhkan rasa percaya diri dan bangga kepada diri sendiri karena berhasil menabung dalam jumlah banyak.. Oleh karena itu, jika kamu berhasil menerapkan strategi ini, sudah selayaknya kamu berbangga diri.
Strategi menerapkan loud budgeting untuk menghemat pengeluaran

Pertama, kamu harus menyusun anggaran (budgeting) terlebih dahulu supaya tahu batasan-batasan yang perlu dikomunikasikan dengan teman dan keluarga. Selanjutnya, kamu bisa menerapkan beberapa strategi berikut ini untuk menghemat pengeluaran dengan cara loud budgeting:
1. Label batas pengeluaran yang jelas di kartu debit dan kredit
Saat ini, bayar ini itu jadi lebih mudah menggunakan kartu debit dan kartu kredit. Nah, supaya kamu bisa lebih hemat, tempelkan angka batas pengeluaran di atas dua kartu tersebut. Misalnya, di atas kartu kredit Honest kamu tulis : batas penggunaan limit Januari 2026 Rp2.500.000. Jadi, ketika limit kredit kamu sudah berkurang Rp2.500.000, kamu stop menggunakan metode pembayaran ini.
2. Gunting kartu kredit yang tidak perlu
Tidak jarang, seseorang memiliki lebih dari dua kartu kredit karena fasilitasnya yang berbeda, misalnya satu untuk travel, satu lagi untuk belanja sehari-hari. Tapi, memiliki lebih dari dua kartu seperti ini juga bikin boros. Memblokir dan menggunting dua kartu kredit yang tidak digunakan adalah langkah loud budgeting yang berani, setidaknya untuk diri kamu sendiri.
3. Menolak ajakan untuk belanja berlebihan
Hal yang tidak kalah penting dari loud budgeting adalah secara terang-terangan menolak belanja secara berlebihan baik itu menolak dari teman, keluarga atau bahkan pasangan. Gunakan tata bahasa yang halus tapi tegas dan mudah dimengerti supaya mereka tidak sakit hati dan atau merasa diceramahi.
4. Self-reward jika tabungan kamu mencapai angka tertentu
Meskipun kamu memiliki target keuangan jangka panjang yang lebih penting, tapi tidak ada salahnya juga kamu memberikan self-reward jika target keuangan jangka pendek kamu terpenuhi. Tujuannya adalah supaya kamu lebih semangat lagi menabung dan menerapkan loud budgeting.
Misalnya, kamu menggunakan Honest Apps dan memiliki catatan Honest Savings sebesar Rp10.000.000 sesuai dengan target 1 tahun menabung. Maka, jangan sungkan untuk memberikan self-reward sederhana, seperti nonton di CGV kelas velvet sesekali.
Pada dasarnya, tidak ada salahnya mengkomunikasikan batasan dan target keuangan kepada orang-orang terdekat. Apalagi jika sumber keuangan kamu berasal dari cara yang halal dan sesuai dengan hukum di Republik Indonesia.
Frequently Asked Questions (FAQ)
1. Apakah loud budgeting penting bagi yang sudah berkeluarga?
Loud budgeting sangat disarankan dilakukan, khususnya bagi yang sudah berkeluarga supaya lebih terbuka soal kondisi keuangan.
2. Bagaimana cara melakukan budgeting yang ideal?
Untuk melakukan budgeting yang ideal, kamu perlu mencatat pendapatan dan pengeluaran setiap bulannya, kemudian pisahkan pengeluaran berdasarkan kategori tertentu. Misalnya untuk kebutuhan harian, membayar cicilan, dan sebagainya. Supaya lebih mudah, disarankan menggunakan aplikasi pencatat keuangan pribadi.
3. Bagaimana cara mencegah perilaku konsumtif?
Selain menerapkan loud budgeting, cara mencegah perilaku konsumtif adalah dengan membedakan mana kebutuhan dan keinginan, serta mencatat seluruh pengeluaran secara mendetail agar tahu ke mana uang tersebut dibelanjakan.
Tunggu apa lagi?
Dapatkan Honest Card kamu sekarang








