Mengenal lifestyle inflation, dampak & cara menghindarinya
Pernah nggak sih, merasa penghasilan naik tapi kok tetap aja duitnya cepat habis? Dulu makan di warteg sudah cukup, sekarang harus di kafe. Dulu pakai HP lama nggak masalah, sekarang gatel pengen upgrade tiap ada model baru. Nah, kalau kamu relate, bisa jadi kamu sedang kena lifestyle inflation!
Apa sih lifestyle inflation itu? Penasaran? Artikel ini bakal bahas apa itu lifestyle inflation, dampaknya bagi keuangan, dan bagaimana cara menghindarinya agar tetap bisa menikmati hidup tanpa menjadi korban gaya hidup yang nggak ada ujungnya. Yuk, simak!
Apa itu lifestyle inflation?

Lifestyle inflation adalah kondisi di mana pengeluaran ikut naik seiring bertambahnya penghasilan. Jadi, semakin besar gaji atau pendapatan, semakin tinggi juga standar hidup yang dianggap "normal." Contohnya, misal tadinya cukup pakai motor seadanya tapi karena penghasilan naik jadi beli motor yang lebih mentereng.
Masalahnya, kalau nggak dikontrol, lifestyle inflation bisa membuat keuangan stuck di tempat. Gaji naik, tapi tabungan tetap segitu-segitu saja, bahkan bisa makin boros karena terus merasa "butuh" sesuatu yang lebih mahal. Akhirnya, meskipun pemasukan bertambah, tetap saja merasa kekurangan jauh dari yang namanya stabil secara finansial.
Makanya, penting banget untuk sadar sejak dini tentang jebakan lifestyle inflation ini. Nggak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras, tapi kalau setiap kenaikan gaji langsung diikuti dengan kenaikan gaya hidup tanpa memikirkan tabungan dan investasi, kapan bisa benar-benar bebas finansial?
Dampak lifestyle inflation
Orang yang sudah kena lifestyle inflation mungkin nggak sadar, padahal dampaknya kelihatan banget, lho. Berikut ini dampak lifestyle inflation, apakah kamu termasuk merasakannya?
1. Tabungan dan investasi stagnan
Dampak lifestyle inflation yang pertama adalah tabungan dan investasi yang stagnan. Gaji naik terus, tapi tabungan tetap segitu-segitu aja. Semua tambahan penghasilan langsung habis buat memenuhi gaya hidup yang makin mahal.
2. Sulit mencapai tujuan keuangan
Dampak lainnya, yaitu sulit mencapai tujuan keuangan. Setiap orang tentu punya tujuan keuangan masing-masing. Pengen punya rumah, dana darurat, atau pensiun tenang? Kalau semua kenaikan gaji langsung dipakai untuk memenuhi gaya hidup, tentu impian finansial bisa makin jauh.
3. Makin bergantung pada gaji
Makin tinggi gap lifestyle inflation yang kamu punya maka kamu akan makin bergantung dengan gaji bulanan yang kamu terima. Begitu ada kondisi darurat atau kehilangan pekerjaan, pasti kamu langsung panik.
4. Risiko utang meningkat
Dampak lifestyle yang makin mahal sering bikin orang nekat berhutang, apalagi kalau pengeluaran sudah melebihi penghasilan. Awalnya cicilan kecil, lama-lama bisa jadi beban berat.
5. Merasa selalu kurang
Terakhir, dampak lifestyle inflation adalah merasa selalu kurang karena semakin tinggi gaya hidup, semakin tinggi ekspektasi. Dulu puas dengan barang sederhana, sekarang merasa "harus" punya yang lebih mahal. Akhirnya, selalu merasa kurang dan nggak pernah cukup.
Cara menghindari lifestyle inflation

Lifestyle inflation bisa bikin gaji naik tapi tabungan tetap segitu-segitu aja. Nah, biar nggak terjebak dalam pola ini, coba terapkan cara-cara berikut:
1. Alokasikan kenaikan gaji dengan bijak
Cara menghindari lifestyle inflation adalah mengalokasikan kenaikan gaji yang kamu punya dengan bijak. Setiap kali gaji naik, jangan langsung dipakai buat upgrade gaya hidup. Sebaiknya, sisihkan dulu 20-30% dari kenaikan gaji untuk tabungan, investasi, atau dana darurat. Dengan begitu, keuanganmu tetap sehat tanpa mengorbankan kesenangan.
2. Gunakan kartu kredit secara cerdas
Salah satu cara supaya nggak mudah terkena lifestyle inflation adalah dengan menggunakan kartu kredit secara cerdas. Pilih kartu kredit yang bisa dukung gaya hidup dengan keuangan sehat seperti Kartu Kredit Honest.
Kartu Kredit Honest bikin pengaturan keuangan jadi lebih gampang. Fitur real-time notifications dari aplikasi Honest Card membantu kamu mengontrol keuangan dengan memberi peringatan langsung setiap kali ada transaksi. Dengan notifikasi ini, kamu jadi lebih sadar pengeluaran harian, bisa langsung mengecek apakah belanja sesuai budget, dan menghindari pengeluaran impulsif yang bisa bikin lifestyle inflation.
Nggak cuma itu, kamu juga bisa atur pembayaran sesuai kemampuan pakai aplikasi kartu kredit Honest App, ingin membayar lunas langsung atau dicicil fleksibel tanpa aturan yang kaku. Kalau kamu rutin bayar tepat waktu, kamu nggak akan terkena bunga. Hanya ada satu biaya yang dihitung dari penggunaan, dan serunya lagi, kalau kamu bayar lunas tiap bulan, biaya tersebut akan dikembalikan 100%. Sehingga, semakin aman untuk atur keuangan tanpa ribet!
Selain itu, kartu kredit Honest juga memberikan pengalaman transaksi yang aman dan nyaman. Kartu fisiknya tanpa nomor, jadi nggak akan ada yang bisa mengintip datamu. Semua info kartu aman tersimpan di aplikasi. Kamu bisa lebih mudah membayar tagihan dengan kartu kredit tanpa ribet!
3. Buat anggaran & taat pada batas pengeluaran
Cara supaya kamu nggak gampang FOMO sama gaya hidup orang lain? Mulai dari bikin batasan yang jelas buat diri sendiri. Punya gaji lebih besar bukan berarti harus belanja lebih banyak. Tetapkan anggaran bulanan yang realistis, lalu patuhi batas pengeluaran untuk kebutuhan dan hiburan. Jangan sampai kenaikan gaji malah bikin kamu lebih boros, karena kalau nggak dikontrol, ujung-ujungnya kamu terjebak lifestyle inflation—pengeluaran naik terus seiring pemasukan, tanpa sadar tabungan tetap segitu-gitu aja.
4. Fokus pada kebutuhan, bukan keinginan
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan ke diri sendiri: "Apakah ini benar-benar aku butuhkan atau cuma ingin?" Dengan cara ini, kamu bisa membedakan pengeluaran esensial dan belanja impulsif yang bisa bikin kantong jebol.
Kadang, kita tergoda beli barang hanya karena diskon, tren, atau karena melihat orang lain memilikinya. Apalagi di era media sosial, di mana hampir setiap hari kita disuguhi konten unboxing atau review barang-barang yang terlihat menarik. Padahal, kalau dipikir lagi, barang itu mungkin nggak benar-benar kita perlukan. Jangan sampai cuma karena FOMO, kita akhirnya menghabiskan uang untuk sesuatu yang sebenarnya nggak terlalu penting.
Makanya, penting banget agar selalu punya kontrol sebelum checkout atau gesek kartu. Salah satu caranya adalah dengan memberi jeda sebelum membeli sesuatu. Kalau ragu, coba tunda selama 24 jam atau bahkan beberapa hari untuk melihat apakah keinginan itu masih ada. Biasanya, kalau memang butuh, kamu akan tetap merasa perlu membeli barang tersebut. Tapi kalau ternyata cuma keinginan sesaat, dalam beberapa waktu rasa ingin itu akan hilang.
5. Tetapkan tujuan keuangan jangka panjang
Terakhir, tetapkan tujuan jangka panjang. Kalau punya tujuan finansial jelas—misalnya beli rumah, dana pensiun, atau investasi—kamu bakal lebih termotivasi buat menabung daripada sekadar menghabiskan uang buat hal-hal konsumtif. Tanpa tujuan yang konkret, pengeluaran seringkali jadi nggak terarah, dan akhirnya uang habis tanpa ada hasil yang benar-benar berarti.
Pikirkan apa yang benar-benar ingin kamu capai dalam beberapa tahun ke depan. Mau punya tabungan darurat yang cukup biar lebih tenang? Mau liburan ke luar negeri tanpa harus ngutang? Atau mungkin nyicil nabung buat beli rumah? Dengan menetapkan tujuan yang jelas, kamu jadi punya alasan lebih kuat untuk mengontrol pengeluaran dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan atau investasi.
Tunggu apa lagi?
Dapatkan Honest Card kamu sekarang








